falahluqmanulhakiem

Mencoba berbagi, agar senantiasa berarti

MENGENAL “PUJI SLAMET ARIF (Penemu Motor Listrik Hemat Energi)”.

Pendidikan boleh tak tamat SLTP. Tapi, ini bukan hambatan bagi Puji Slamet Arif untuk berkarya. Setelah melalui proses coba-coba selama 10 tahun, Puji akhirnya berhasil menciptakan motor listrik yang diyakininya bisa menghemat energi listrik hingga 75 persen.

Tubuhnya kurus. Rambutnya sudah banyak yang memutih. Cara bicaranya ceplas-ceplos dan selalu percaya diri. “Meski saya ini bukan orang pendidikan, tapi saya punya pengalaman. Pengalaman inilah yang membuat saya yakin akan karya saya ini,” kata Puji yang mengaku lahir di Bapinang Bulu, Sampit ini. “Saya siap diuji oleh profesor mana pun,” ujar pria 53 tahun ini.

Apa yang dikatakan Puji ini bukanlah sekadar isapan jempol. Motor listrik ciptaannya yang diberi nama Taheta (dari bahasa Dayak, artinya baru) itu bahkan sudah dipresentasikannya di ITS (Institut Teknologi 10 November). “Ini buktinya,” kata Puji, sambil menyodorkan dua lembar surat berkop ITS. Dalam surat yang ditandatangani Pembantu Rektor (Purek) IV Ir Daniel Mochammad Rosyid itu disebutkan, bahwa motor listrik karya Puji ini memang tergolong karya inovatif yang orisinil.

Dia menceritakan, pada 6 September lalu, karyanya dipresentasikan di depan beberapa dosen ITS. Di antaranya Ir Daniel M. Rosyid (Purek IV ITS), Dr Ir Soeprapto (Ketua Hak Kekayaan Intelektual ITS) dan Ir Margo Pujiantoro MT (Dosen Teknik Elektro ITS).

Alat ciptaan Puji itu dikemas sangat sederhana. Bentuknya bulat dengan diameter sekitar 25 centi meter. Alat tersebut ditutup dengan triplek. Ada kabel yang dihubungkan dengan aki 10 A (amper) 12 volt.

Selain menciptakan Taheta, Puji juga mengaku telah menciptakan tiga mesin yang dinamainya Taheta Hindai (lebih baru), Taheta Kia (baru juga), dan Taheta Toto (terbaru). “Semua temuan itu saya namakan dengan bahasa dayak karena saya ingin mempopulerkan bahasa dayak,” ujar Puji.

Untuk membuat karya-karyanya itu, Puji tak mau setengah-setengah. “Saya butuh waktu 10 tahun untuk menciptakan keempat alat itu. Utak-atik alat dan mencobanya, begitu seterusnya,” kata laki-laki yang saat ini tinggal di rumah kakaknya di Urip Sumoharjo.

Ketertarikan Puji pada hal-hal berbau teknik diawali saat Puji berusia 8 tahun. “Ayah saya punya dua kapal bermotor yang tiap hari digunakan untuk berjualan sayur di pasar terapung sepanjang sungai Sampit,” tutur putra ke lima pasangan (alm) Badri Arif dan Dewi Mulat ini. Setiap hari, Puji dipercaya ayahnya untuk memegang kemudi kapal keliling sungai Sampit. Hingga suatu saat, tiba-tiba motor kapalnya ngadat gara-gara kehabisan minyak. “Waktu ayah saya membongkar motor kapal, saya jadi tertarik untuk mempelajari seluk-beluk motor listrik,” papar pria yang sebagian rambutnya telah memutih ini.

“Waktu itu, saya sempat penasaran, bagaimana jika minyak dan semua hasil bumi telah habis. Pasti repot sekali. Semua mesin yang berbahan bakar minyak pasti mati,” tutur pria yang hobi melihat program discovery channel ini. Inilah yang lantas menggelitik Puji, selanjutnya dia bertekat untuk menggeluti hal-hal yang berbau teknik. “Jujur saja, setiap hari saya terus memikirkan cara membuat alat yang mampu bekerja tanpa menggunakan energi listrik, minimal, jika tetap memakai listrik, alat yang saya ciptakan itu harus bisa seirit mungkin,” ujarnya.

Akhirnya, tahun 1977 Puji memutuskan hijrah ke Surabaya. “Saya merasa tidak akan maju jika tetap berada di Sampit,” paparnya. Tiba di Surabaya, tempat pertama yang ditujunya adalah pasar loak. “Banyak ide-ide saya yang muncul dari pasar loak. Bahkan, kebiasaan jalan-jalan ke pasar loak itu tetap saya lakukan hingga kini,” tandas Puji.

Ketika usianya menginjak 25 tahun, Puji menikahi Tri Ida Setiani, gadis manis asal Jombang yang memberinya tiga orang putra. Setelah menikah, ketertarikan Puji pada hal-hal yang berbau teknik semakin menggebu. Hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk mempelajari motor listrik dan bongkar pasang mesin.

Kegilaan Puji pada dunia teknik makin menjadi-jadi tahun 1992. “Di tahun itulah awal mula saya menemukan ide untuk membuat motor listrik Taheta,” paparnya. Didukung peralatan seadanya, Puji mulai mengerjakan proyek barunya itu. “Saya menggarap motor listrik ini siang malam. Bahkan, saya tidak bisa tidur jika pekerjaan belum selesai,” akunya. Perkakas yang digunakan, kebanyakan didapatnya dari pasar loak. “Semua komponen saya rakit sendiri. Hanya klaher (bearing) dan platina saja yang bikinan pabrik,” terang Puji. (Firzan Syahroni) — Sumber: Harian Jawa Pos, 20 Desember 2002.

Pendidikan boleh tak tamat SLTP. Tapi, ini bukan hambatan bagi Puji Slamet Arif untuk berkarya. Setelah melalui proses coba-coba selama 10 tahun, Puji akhirnya berhasil menciptakan motor listrik yang diyakininya bisa menghemat energi listrik hingga 75 persen.

Tubuhnya kurus. Rambutnya sudah banyak yang memutih. Cara bicaranya ceplas-ceplos dan selalu percaya diri. “Meski saya ini bukan orang pendidikan, tapi saya punya pengalaman. Pengalaman inilah yang membuat saya yakin akan karya saya ini,” kata Puji yang mengaku lahir di Bapinang Bulu, Sampit ini. “Saya siap diuji oleh profesor mana pun,” ujar pria 53 tahun ini.

Apa yang dikatakan Puji ini bukanlah sekadar isapan jempol. Motor listrik ciptaannya yang diberi nama Taheta (dari bahasa Dayak, artinya baru) itu bahkan sudah dipresentasikannya di ITS (Institut Teknologi 10 November). “Ini buktinya,” kata Puji, sambil menyodorkan dua lembar surat berkop ITS. Dalam surat yang ditandatangani Pembantu Rektor (Purek) IV Ir Daniel Mochammad Rosyid itu disebutkan, bahwa motor listrik karya Puji ini memang tergolong karya inovatif yang orisinil.

Dia menceritakan, pada 6 September lalu, karyanya dipresentasikan di depan beberapa dosen ITS. Di antaranya Ir Daniel M. Rosyid (Purek IV ITS), Dr Ir Soeprapto (Ketua Hak Kekayaan Intelektual ITS) dan Ir Margo Pujiantoro MT (Dosen Teknik Elektro ITS).

Alat ciptaan Puji itu dikemas sangat sederhana. Bentuknya bulat dengan diameter sekitar 25 centi meter. Alat tersebut ditutup dengan triplek. Ada kabel yang dihubungkan dengan aki 10 A (amper) 12 volt.

Selain menciptakan Taheta, Puji juga mengaku telah menciptakan tiga mesin yang dinamainya Taheta Hindai (lebih baru), Taheta Kia (baru juga), dan Taheta Toto (terbaru). “Semua temuan itu saya namakan dengan bahasa dayak karena saya ingin mempopulerkan bahasa dayak,” ujar Puji.

Untuk membuat karya-karyanya itu, Puji tak mau setengah-setengah. “Saya butuh waktu 10 tahun untuk menciptakan keempat alat itu. Utak-atik alat dan mencobanya, begitu seterusnya,” kata laki-laki yang saat ini tinggal di rumah kakaknya di Urip Sumoharjo.

Ketertarikan Puji pada hal-hal berbau teknik diawali saat Puji berusia 8 tahun. “Ayah saya punya dua kapal bermotor yang tiap hari digunakan untuk berjualan sayur di pasar terapung sepanjang sungai Sampit,” tutur putra ke lima pasangan (alm) Badri Arif dan Dewi Mulat ini. Setiap hari, Puji dipercaya ayahnya untuk memegang kemudi kapal keliling sungai Sampit. Hingga suatu saat, tiba-tiba motor kapalnya ngadat gara-gara kehabisan minyak. “Waktu ayah saya membongkar motor kapal, saya jadi tertarik untuk mempelajari seluk-beluk motor listrik,” papar pria yang sebagian rambutnya telah memutih ini.

“Waktu itu, saya sempat penasaran, bagaimana jika minyak dan semua hasil bumi telah habis. Pasti repot sekali. Semua mesin yang berbahan bakar minyak pasti mati,” tutur pria yang hobi melihat program discovery channel ini. Inilah yang lantas menggelitik Puji, selanjutnya dia bertekat untuk menggeluti hal-hal yang berbau teknik. “Jujur saja, setiap hari saya terus memikirkan cara membuat alat yang mampu bekerja tanpa menggunakan energi listrik, minimal, jika tetap memakai listrik, alat yang saya ciptakan itu harus bisa seirit mungkin,” ujarnya.

Akhirnya, tahun 1977 Puji memutuskan hijrah ke Surabaya. “Saya merasa tidak akan maju jika tetap berada di Sampit,” paparnya. Tiba di Surabaya, tempat pertama yang ditujunya adalah pasar loak. “Banyak ide-ide saya yang muncul dari pasar loak. Bahkan, kebiasaan jalan-jalan ke pasar loak itu tetap saya lakukan hingga kini,” tandas Puji.

Ketika usianya menginjak 25 tahun, Puji menikahi Tri Ida Setiani, gadis manis asal Jombang yang memberinya tiga orang putra. Setelah menikah, ketertarikan Puji pada hal-hal yang berbau teknik semakin menggebu. Hampir seluruh waktunya dicurahkan untuk mempelajari motor listrik dan bongkar pasang mesin.

Kegilaan Puji pada dunia teknik makin menjadi-jadi tahun 1992. “Di tahun itulah awal mula saya menemukan ide untuk membuat motor listrik Taheta,” paparnya. Didukung peralatan seadanya, Puji mulai mengerjakan proyek barunya itu. “Saya menggarap motor listrik ini siang malam. Bahkan, saya tidak bisa tidur jika pekerjaan belum selesai,” akunya. Perkakas yang digunakan, kebanyakan didapatnya dari pasar loak. “Semua komponen saya rakit sendiri. Hanya klaher (bearing) dan platina saja yang bikinan pabrik,” terang Puji.

Sumber: Harian Jawa Pos

About these ads

January 14, 2009 - Posted by | HARUSNYA ANDA KETAHUI, ILMU PENGETAHUAN UMUM, TOKOH-TOKOH | , ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 37 other followers

%d bloggers like this: