falahluqmanulhakiem

Mencoba berbagi, agar senantiasa berarti

MENGUNGKAP “PSIKOTERAPI DALAM DZIKIR DAN DO’A”.

Sebagai ibadah sunat; zikir, doa, dan tilawah Alquran yang diamalkan oleh seorang muslim dalam membangun fisikal dan psikologikal, dapat dijadikan psikoterapi bagi keguncangan jiwa, kecemasan dan gangguan mental.

Psikoterapi zikir, doa, dan tilawah Alquran adalah metode kesehatan mental. Ibadah sunat seperti zikir, doa, dan tilawah Alquran tidaklah memerlukan waktu yang terjadwal. Malahan ibadah ini boleh diamalkan kapan saja dan di mana saja, selama kesucian badan dari najis dan hadas tetap terjaga. Ibadah zikir, doa, dan tilawah Alquran adalah upaya mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Seorang individu dalam masa pengobatan dan pemulihan diharuskan berzikir, berdoa, dan bertilawah Alquran secara kontinyu dan tidak boleh terputus, sehingga diyakini bahwa pasien sudah benar-benar sembuh dari penyakit mental yang dihadapinya.

Zikir, doa, dan tilawah AlQuran merupakan ibadah yang aplikatif dilakukan secara beriringan dan bersinergi. Seorang muslim tidak mungkin berdoa; bermunajat kepada Allah dan memohon dikabulkan permintaannya, sekiranya tidak diawali dengan zikir ataupun bertilawah Alquran. Zikir yang diamalkan oleh seorang muslim secara terus-menerus dan tidak terputus akan menjadi tenaga inovatif dalam diri individu yang sedang menghadapi penyakit hati, penyakit mental dan gangguan mental.

Dengan berzikir, seorang muslim merasa berdampingan dan dekat dengan Tuhannya. Dengan berzikir seorang muslim menjadi tenang dan tenteram.

Allah berfirman:

‘’Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram.’’
(QS. Al-Ra’d: 28)

Kebiasaan seorang muslim dalam mengingat Allah seperti membaca takbir, tahmid, tasbih, tahlil, dan istighfar dapat menjadi obat penawar bagi segala jenis penyakit mental, menenangkan dan menenteramkan pikiran yang kacau, sehingga menjadi sehat dan selaras antara diri dengan alam sekitarnya.

Apabila seorang muslim membiasakan diri mengingat Allah, maka individu itu merasakan bahwa ia dekat dengan Allah dan berada dalam perlindungan dan penjagaan-Nya. Dengan demikian, akan timbul dalam dirinya perasaan percaya pada diri sendiri, teguh, tenang, tenteram dan bahagia.

Zikir kepada Allah bisa menjadi energi hati, motivasi hati, dan boleh juga menjadi sebuah metode dalam mewujudkan kesehatan mental. Merasa dekat dengan Allah, seyogyanya menjadikan diri terawasi dan terjaga untuk tidak tergelincir dan terjerumus ke dalam perkara-perkara yang mendatangkan dosa dan maksiat.

Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (manfaatnya). Zikir memelihara diri dari was-was syaitan khannas dan membentengi diri dari maksiat, mendatangkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, menyampaikan kepada derajat yang tinggi di sisi Allah, memberikan sinaran kepada hati dan menghilangkan kekotoran psikologis dan lain-lainnya.

Doa adalah suatu cara untuk bermunajat kepada Allah SWT dalam rangka memohon bantuan dan inayah, agar dilapangkan jalan menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak. Doa itu harus beriringan dengan keyakinan dan penuh pengharapan, yaitu sikap yang memastikan diri bahwa sesuatu yang dilakukannya akan berhasil.

Dalam hal ini, seorang muslim yakin bahwa doanya pasti didengar oleh Allah SWT dan dikabulkan-Nya apa yang menjadi harapannya. Doa senantiasa dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa, apabila doa itu disertai dengan kerendahan hati dan suara yang lembut.

Orang yang congkak dan tidak mau bermohon dan meminta bantuan kepada Allah SWT dianggap sebagai orang yang hina dan akan diazab di neraka Jahannam. Seorang muslim yang berdoa, seharusnya memulai doanya dengan pujian, penuh rasa takut, merendahkan diri dan menghinakan diri, berdoa dengan penuh keikhlasan, menyebut sebutan asma al-husna, berdoa dengan suara lemah lembut dan rendah.

Terkabulnya doa seorang muslim akan memotivasinya menuju arah yang lebih baik, yang akan menuntun hidupnya kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Doa yang terkabul itu juga yang membawa seorang muslim ke arah kesehatan mental, di mana kegoncangan dan kekacauan hatinya yang terbelenggu, diganti dengan kedamaian dan ketenangan mental. Seorang muslim yang memulai hidupnya dengan bertawakkal kepada Allah, sebagai manifestasi dari doa yang diucapkannya, biasanya merasa doanya dijawab dan didengar oleh Allah SWT.

Doanya yang terkabul itu juga yang menjadikannya optimis dalam menempuh perjalanan hidupnya di masa mendatang. Seorang muslim yang berdoa, selalu mengiringi permohonannya itu dengan tilawah Alquran. Tilawah Alquran menjadikan seorang muslim hidup dalam ketenangan dan ketenteraman; karena Alquran merupakan syifa’ lima fi al-shudr, ‘’obat bagi hati yang duka dan lara.’’

Allah berfirman yang bermaksud:

‘’Dan Kami turunkan dari Alquran itu, apa yang menjadi obat dan rahmat bagi mereka yang beriman.’’
(QS. Al-Isra’ : 71).

Alquran yang menjadi obat dan rahmat itu, memerlukan bacaan khusyuk, tawaddhuk dan menjaga adab membaca Alquran. Alquran adalah petunjuk, sumber ilmu pengetahuan. Dalam kesehatan mental, Alquran adalah sebuah metode yang membuat seorang muslim menjadi tenang, nyaman, selaras, damai dan tenteram.

Sekiranya dengan tilawah Alquran dapat dicapai ketenangan dan ketenteraman jiwa, maka setiap kali seorang muslim membacanya, berarti setiap kali itu pula seorang muslim memperoleh ketenangan dan ketenteraman jiwa. Apabila seorang muslim seringkali membaca Alquran, maka ia akan terhindar dari keterpurukan dan perasaan yang menekannya.

Sudah menjadi realitas dalam kehidupan seorang muslim bahwa dengan zikir, doa dan tilawah Alquran dapat menjadi tindakan preventive, curative, dan constructive bagi gangguan kejiwaan dan penyakit mental.

Semua persoalan hidup yang dialami seorang muslim, diadukan kepada Tuhannya; sehingga zikir, doa, dan tilawah Alqurannya dijawab oleh Allah, maka muncullah ketenangan batin dan ketenteraman jiwa. Apabila dicermati dengan baik, maka zikir, doa, dan tilawah Alquran, maka amalan-amalan tersebut dapat dijadikan sebuah metodologi psikoterapi dalam mewujudkan kesehatan mental dan kepribadian Alquran.

Dr Khairunnas Rajab MAg
Dosen UIN Suska Riau DPK pada STAI Natuna, Staf Ahli Bupati Natuna, dan Direktur Eksekutif LPU ‘’Madine el-Jadid.’’

sumber : http://www.ikatanwargaislaminalum.com

January 5, 2009 - Posted by | RELIGIUS, SENTUHAN QOLBU | ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: