falahluqmanulhakiem

Mencoba berbagi, agar senantiasa berarti

MELIHAT SISI LAIN “DI BALIK MEGA TRANSFER SEORANG “KAKA”.

Manchester City sama sekali bukanlah klub raksasa. Dibanding AC Milan, mereka adalah klub “Mickey Mouse”. Bahkan dibandingkan dengan tetangganya pun, City jauh lebih kecil daripada Manchester United.

Tapi, uang berbicara…

AC Milan adalah salah satu klub paling sukses di dunia dengan berbagai macam prestise, sejarah, dan kelas yang membuat para rivalnya iri. Torehan 17 scudetto, tujuh titel Liga Champions dan Piala Eropa, tiga Piala Intercontinental, ditambah nama-nama seperti Marco Van Basten, Franco Baresi, dan Paolo Maldini yang sudah menjadi legenda. Tak cukup satu hari untuk menjelaskan Rossoneri.

Sebaliknya, City baru dua kali juara di liga domestik – 1937 dan 1968, ditambah satu gelar Piala Winners pada 1970. Itu saja. Bahkan, The Citizens pernah degradasi ke divisi tiga pada satu dasawarsa lalu. Kemudian, siapa pemain hebat yang pernah merumput di City? Pernah dengar Colin Bell dan Francis Lee? Dalam sejarah klub, kedua pemain tersebut adalah legenda. Selesai sudah cerita tentang City.

Tak jauh dari Stadion City of Manchester, terdapat sebuah klub yang memiliki segudang prestasi melimpah: Manchester United. Sama halnya dengan Milan, rasanya tak cukup untuk membicarakan The Red Devils dalam sehari.

Saat ini, Milan berada di posisi ketiga Serie A Italia, dan masih berpeluang besar meraih scudetto. Sementara City belum beranjak ke sepuluh besar Liga Primer Inggris, terpaut 22 poin dari rival sekotanya.

Lalu, buat apa seorang Kaka – salah satu pemain terbaik dunia saat ini – pindah dari Milan ke Manchester City? Sekali lagi, uang berbicara.

City saat ini masih dalam tahap membicarakan kemungkinan memboyong Kaka dari San Siro. Klub besutan Mark Hughes itu memerlukan seorang bintang baru untuk mengikuti jejak Robinho. Penawaran awal mencapai angka €100 juta. Tapi tak lama kemudian, City menaikkan tawarannya menjadi €271 juta (hampir Rp4 trilyun) termasuk gaji pemain dan nilai transfer itu sendiri. Angka fantastis, bahkan gila untuk membeli seorang pemain.

Ya, pemilik Manchester City Sheikh Mansour bin Zayed al Nahyan dari Abu Dhabi United Group, ingin merogoh kocek Rp4 trilyun untuk seorang pemain sepakbola, daripada membantu rakyat Palestina, atau membeli sebuah pulau dekat kota Lisboa di Portugal, yang harganya lebih murah. Luar biasa!

Apa yang terjadi?

Inilah bisnis sepakbola jaman kini. Di saat krisis keuangan global, bisnis sepakbola justru semakin rakus. Bahkan sejak Roman Abramovich membeli Chelsea, nilai pemain di bursa transfer sudah melambung setinggi langit. Ditambah lagi Liga Primer yang menjadi mesin keuangan Asosiasi Sepakbola Inggris, dengan pemasaran global bernada propaganda dan hak siar televisi dengan biaya yang tak masuk akal lagi, sehingga bolamania Tanah Air tak dapat menikmati kualitas terbaik untuk siaran langsung Liga Primer.

Kaka pernah menyatakan keinginannya untuk merumput di Liga Primer suatu saat nanti dalam karirnya, tapi untuk sekarang-sekarang ini, dedikasi dan komitmennya adalah terhadap timnas Brasil dan Rossoneri, tidak ada yang lain.

Sedangkan para petinggi Milan tentunya akan merasa bersalah jika menolak tawaran City. Mereka ingin segera melunasi utang klub, dan penjualan Kaka adalah solusi terbaik di mata mereka.

Siapa yang salah? Kaka atau para petinggi Milan? Tidak ada satupun yang harus disalahkan. Lalu, apakah pihak City yang bersalah? Tunggu dulu…

Jika penjualan Kaka berhasil, dan sepertinya kian dekat terjadi, Milan akan terus menjadi Milan, dan mereka akan belajar bermain tanpa eksistensi bekas penyerang São Paulo itu. Kaka tetaplah Kaka – seorang pemain profesional. Meskipun setengah hati di City, ia akan menunjukkan profesionalismenya bersama klub barunya itu.

Akan terjadi dua hal menarik lainnya pasca transfer Kaka ke City.

Pertama, inflasi besar-besaran akan tercipta di bursa transfer. Milan akan memiliki dana ekstra untuk membeli pemain-pemain baru. Katakanlah mereka ingin memboyong Sergio Leonel Agüero del Castillo alias Kun Aguero. Klub yang dibelanya, Atletico Madrid, awalnya mungkin akan membandrol pemainnya sebesar €20 juta. Tapi karena mengetahui Milan punya uang berlebihan, harga Aguero mudah saja untuk dinaikkan menjadi dua atau tiga kali lipat.

Kedua, City akan terus mengancam lawan-lawannya di Liga Primer. Pada awal jendela transfer Januari, Sheikh Mansour sudah menegaskan, pihaknya ingin mendatangkan satu orang superstar, dan itu sudah cukup untuk membuka jalur bagi pemain-pemain lainnya menyusul ke Eastlands. Kata-kata “yang lainnya menyusul” itulah yang mengerikan. Siapa lagi setelah Kaka di bursa transfer berikutnya? Lionel Messi? David Villa? Karim Benzema? Bahkan, nama Jose Mourinho – yang katanya ingin kembali ke Inggris – sudah disebut-sebut untuk menggantikan peran Mark Hughes. Meskipun dibantah, tetap saja uang berbicara. Who knows?

Keinginan untuk bermain di City adalah suatu hal, tapi masalah uang adalah perkara lainnya. Klub yang paceklik gelar selama 40 tahun dan kaya mendadak ini akan melakukan segala cara, demi mengejar prestasi. Salahkah City? Tentunya tidak.

Kenyataannya, sepakbola terus menjadi sebuah bisnis di dalam sistem kapitalisme. Dan di dalam bisnis itu, terdapat kerakusan sang arsiteknya.

Jadi, siapa yang patut disalahkan? Jika Kaka benar-benar pindah, apakah AC Milan yang mati, Manchester City yang mati, atau sepakbola yang mati?

Sederhana saja, jika presiden FIFA Sepp Blatter, atau Michel Platini sebagai bos UEFA tidak segera melakukan sesuatu terhadap laws of player transfers, berarti penjualan Kaka akan membuka peluang terhadap penjualan “Kaka-Kaka lainnya”. Dengan kata lain, sebuah aturan harus ditegakkan oleh FIFA/UEFA guna mencegah adanya pemilik klub yang kaya raya – sebagai sebuah bisnis – untuk membeli pemain dari uang yang tidak dihasilkan klub secara langsung. Agar lebih jelas lagi, sebuah klub hanya bisa beli pemain lewat jerih payahnya sendiri, karena uang tidak tumbuh dari pohon, atau dalam kasus ini: minyak.

Tapi untuk menegakkan aturan itu, notabene, sudah terlambat. Sementara ini, life goes on, sepakbola akan terus hidup, dan setidaknya dunia belum kiamat…

Sumber : http://www.goal.com/id-id/news/1353/serie-a-italia/2009/01/19/1067431/catatan-saga-transfer-kaka-ancaman-sheikh-city–rakusnya-sepakbola

January 19, 2009 - Posted by | DUNIA OLAH RAGA |

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: