falahluqmanulhakiem

Mencoba berbagi, agar senantiasa berarti

MENGENAL “PASUKAN ELITE KHUSUS MILITER INDONESIA.” (BAG.5)

7. KORPS PASUKAN KHAS

Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (disingkat Korpaskhasau atau Paskhas atau sebutan lainnya adalah Baret Jingga), merupakan pasukan (khusus) yang dimiliki TNI-AU. Sama seperti satuan lainnya di TNI-AD dan TNI-AL, Paskhas merupakan satuan tempur darat berkemampuan tiga matra: laut, darat, udara. Hanya saja dalam operasi, tugas dan tanggungjawab, Paskhas lebih ditujukan untuk merebut dan mempertahankan pangkalan udara dari serangan musuh, untuk selanjutnya menyiapkan bagi pendaratan pesawat kawan. Kemampuan satu ini disebut Operasi Pembentukan dan Pengoperasian Pangkalan Udara Depan (OP3UD).

Motto Paskhas:

  • Karmaye Vadikaraste Mafalesu Kadacana (bekerja tanpa menghitung untung dan rugi)

Sejarah

  • Penerjunan pasukan pertama kali

Gubernur Kalimantan Ir. Pangeran Muhammad Noor mengajukan permintaan kepada AURI agar mengirimkan pasukan payung ke Kalimantan untuk tugas : membentuk dan menyusun gerilyawan, membantu perjuangan rakyat di kalimantan, membuka stasiun radio induk untuk memungkinkan hubungan antara yogyakarta dan kalimantan, dan mengusahakan serta menyempurnakan daerah penerjunan (Dropping Zone) untuk penerjunan selanjutnya.

Tanggal 17 Oktober 1947, tiga belas orang anggota diterjunkan di Sambi, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Mereka adalah : Harry Aryadi Sumantri, Iskandar, Sersan Mayor Kosasih, F.M.Suyoto, Bahrie, J.Bitak, C.Williem, Imanuel, Mika Amirudidn, Ali Akbar, M. Dahlan, J.H.Darius dan Marawi.

Kesemuanya belum pernah mendapat pendidikan secara sempurna kecuali mendapatkan pelajaran teori dan latihan di darat (Ground Training). Pasukan ini dipimpin oleh Tjilik Riwut, seorang Mayor Angkatan Darat, yang berasal dari suku Dayak kelahiran Kasongan Katingan ( Kalteng saat ini). Dia diminta oleh AURI untuk memandu sekaligus memimpin pasukan tersebut. Atas jasa-jasanya Tjilik Riwut diangkat menjadi anggota AURI dan pensiun dengan pangkat Komodor Udara.

Peristiwa Penerjunan yang dilakukan oleh ke tiga belas prajurit AURI tersebut merupakan peristiwa yang menandai lahirnya satuan tempur pasukan khas TNI Angkatan Udara. Dan sesuai keputusan MEN/PANGAU No.54 Tahun 1967, tanggal 12 Oktober 1967. Bahwa tanggal 17 Oktober 1947 ditetapkan sebagai hari jadi Komando Pasukan Gerak Cepat (KOPASGAT) yang sekarang dikenal dengan Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (KORPASKHAS).

Perubahan organisasi pasukan

Dalam perjalanan sejarahnya organisasi Korpaskhas mengalami perubahan, berawal dari kebutuhan Badan Keamanan Rakyat Udara (BKRO) untuk melindungi pangkalan udara yang direbut dari tentara Jepang terhadap serangan tentara Belanda. Setelah Indonesia merdeka sekaligus konsolidasi BKRO dibentuklah organisasi darat yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) yang masih bersifat lokal. Baru pada tahun 1950, PPP dipusatkan di Jakarta dengan sebutan Air Base Defence Troop (ABDT) membawahi 8 kompi PPP.

Pada tahun 1950 diadakan sekolah terjun payung di Lanud Andir dalam rangka mempersiapkan pembentukan pasukan PARA, hasil didik dari sekolah para inilah yang kemudian disusun kompi-kompi pasukan para. Setelah terbentuk kompi-kompi pasukan para, pada bulan Februari 1952 dibentuk Pasukan Gerak Tjepat (PGT) sehingga pada tahun 1952, Pasukan TNI AU terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara).

Dalam rangka pembebasan Irian Barat, sesuai perintah MEN/PANGAU dibentuk Resimen Tim Pertempuran Pasukan Gerak Tjepat (RTP PGT) yang melingkupi seluruh pasukan di atas.

KOPPAU

Dan tanggal 15 Oktober 1962 berdasarkan Keputusan MEN / PANGAU No. 159 dibentuk Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU) yang terdiri dari markas Komando berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung. Resimen PPP membawahi 5 Batalyon masing-masing di Palembang, Banjarmasin, Makassar, Biak dan Jakarta sedangkan Resimen PGT membawahi 3 Batalyon masing-masing di Bogor, Bandung dan Jakarta.

KOPASGAT

Bedasarkan hasil seminar pasukan di Bandung pada tanggal 11 s.d. 16 April 1966, sesuai dengan Keputusan MEN/PANGAU No. 45 Tahun 1966, tanggal 17 Mei 1966, KOPPAU disahkan menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (KOPASGAT) yang terdiri dari 3 Resimen :

  • Resimen I Pasgat di Bandung, membawahi :

1. Batalyon A Pasgat di Bogor
2. Batalyon B Pasgat di Bandung

  • Resimen II Pasgat di Jakarta, membawahi :

1. Batalyon A Pasgat di Jakarta
2. Batalyon B Pasgat di Jakarta
3. Batalyon C Pasgat di Medan
4. Batalyon D Pasgat di Banjarmasin

  • Resimen III Pasgat di Surabaya, membawahi :

1. Batalyon A Pasgat di Makassar
2. Batalyon B Pasgat di Madiun
3. Batalyon C Pasgat di Surabaya
4. Batalyon D Pasgat di Biak
5. Batalyon E Pasgat di Yogyakarta

Selanjutnya bedasarkan Keputusan KASAU No. 57 Tanggal 1 Juli 1970, Resimen diganti menjadi WING.

PUSPASKHASAU

Sejalan dengan dinamika penyempurnaan organisasi dan pemantapan satuan-satuan TNI, maka berdasarkan Keputusan KASAU No. Kep/22/III/ 1985 tanggal 11 Maret 1985, Kopasgat berubah menjadi Pusat Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (PUSPASKHASAU).

KORPASKHASAU

Seiring dengan penyempurnaan organisasi TNI dan TNI Angkatan Udara, maka tanggal 17 Juli 1997 sesuai Skep PANGAB No. SKEP/09/VII/1997, status Puspaskhas ditingkatkan dari Badan Pelaksana Pusat menjadi Komando Utama Pembinaan (Kotamabin) sehingga sebutan PUSPASKHAS berubah menjadi Korps Pasukan Khas TNI AU (KORPASKHASAU).

Organisasi pasukan

Setelah berubah status menjadi Kotamabin berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara No. SKEP/73/III/1999 tanggal 24 Maret 1999, Korpaskhas membawahi WING Paskhas (WING I, WING II, WING III), Detasemen Bravo Paskhas (Den Bravo Paskhas) dan Detasemen Kawal Protokol Paskhas

Struktur pasukan

  • A. Wing 1/Hardha Maruta di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, membawahi :

1. Skadron 461/Cakra Bhaskara (Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta)
2. Skadron 462/Pulanggeni (Bandara Husein Sastranegara, Bandung)
3. Skadron 465/Brajamusti (Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta)
4. Flight A Paskhas Berdiri Sendiri di Bandara Polonia, Medan.
5. Flight B Paskhas BS di Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekan Baru, Riau.
6. Flight C Paskhas BS di Bandara Atang Sanjaya, Bogor.
7. Flight D Paskhas BS di Bandara El Tari, Kupang.

  • B. Wing 2 Paskhas di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang, membawahi :

1. Skadron 463 Paskhas di Bandara Iswahyudi, Madiun
2. Skadron 464/Nanggala Paskhas di Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang
3. Skadron 466 Paskhas di Bandara Hasanuddin, Makasar
4. Flight E Paskhas BS Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta
5. Flight F Paskhas BS (Bandara Manuhua, Biak) .

  • C. Wing 3 Paskhas / Pendidikan dan Latihan di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung.

D. Den Bravo Paskhas di Lanud Sulaiman, Kabupaten Bandung.
E. Den Walkol Paskhas di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Kekuatan pasukan

Paskhas saat ini berkekuatan 3.000 personel. Terbatasnya dukungan dana dari pemerintah memang jadi kendala untuk memodernisasi Paskhas. Dari segi persenjataan saja, prajurit Paskhas hanya mengandalkan persenjataam seperti senapan serbu SS-1 dan senapan mesin ringan Scorpion sebagai perlengkapan unit anti teroris Detasemen Bravo.

Namun begitu, rencana mengembangkan Paskhas menjadi 10 Skadron dengan jumlah personel dua kali lipat dari sekarang, tetap menjadi ‘energi’ bagi Paskhas untuk terus membenahi diri.

Setidaknya sampai saat ini, pola penempatan Paskhas masih mengikuti pola penggelaran alutsista TNI AU, dalam hal ini pesawat terbang. Dengan kata lain, di mana ada skadron udara, di situ (idealnya) mesti ada skadron Paskhas sebagai unit pengamanan pangkalan.

  • Flight B Pasukan Khas Berdiri Sendiri

Flight B Paskhas TNI-AU adalah salah satu Flight Paskhas TNI-AU. Flight B Paskhas TNI-AU diresmikan pada 26 April 2005. Flight B Paskhas TNI-AU bertugas di Lanud Suryadarma, Kalijati-Subang, Jawa Barat. Flight B Paskhas TNI-AU beranggota 151 personel.

  • Flight C Pasukan Khas Berdiri Sendiri

Flight C Paskhas TNI-AU adalah salah satu Flight Paskhas TNI-AU. Flight C Paskhas TNI-AU bertugas di Lanud Atang Sendjaja. Flight Baret Jingga itu berada dalam Komando Wing I Korpaskhasau yang bermarkas di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

  • Flight D Pasukan Khas Berdiri Sendiri

Flight D Paskhas BS (Berdiri Sendiri) adalah salah satu dari Flight Paskhas TNI-AU yang bermarkas di Lanud El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Flight D Paskhas BS (Berdiri Sendiri) Lanud El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur diresmikan oleh Komandan Korpaskhas (Dankorpaskhas) TNI AU Marsekal Pertama TNI Putu Sulatra pada tanggal 6 April 2005 di Lanud El Tari.

Sebelumnya Flight D Paskhas BS ini merupakan unit satuan di pangkalan udara Pontianak. Flight “D” Paskhas BS di Lanud Eltari ini berkekuatan 175 personel dengan komandan flight-nya adalah Kapten Agus Triono.

Pada tanggal 20 November 2006, dilakukan serah terima Komandan Flight D Paskhas BD dari Kapten (Psk) Agus Triono kepada Kapten (Psk) Isbudiarto di Lapangan Skadron 464 Paskhas di Malang.

8. DETASEMEN BRAVO 90

  • Markas Mako Korpaskhasau Lanud Margahayu, Bandung
  • Kekuatan 124 orang
  • Persenjataan Glock 17, Glock 19, SIg Sauer P226, Benelli M4 Super 90, H&K MP5SD3, H&K MP5K-PDW, Colt M16A4, SIg SG552, SIG SSG-3000, SIG SHR-970, PGM HECATE II, SAR-21, Colt M4A1, Steyr AUG A1/A2
  • Spesialis Pengamanan alutsista udara, anti-bajak pesawat, intelijen & kontra-intelijen,Dibentuk 1990

Detasemen Bravo 90 (disingkat Den Bravo-90) terbilang pasukan khusus Indonesia yang paling muda pembentukannya. Baru dibentuk secara terbatas di lingkungan Korps Pasukan Khas TNI-AU pada 1990, Bravo berarti yang terbaik. Konsep pembentukannya merujuk kepada pemikiran Jenderal Guilio Douchet: Lebih mudah dan lebih efektif menghancurkan kekuatan udara lawan dengan cara menghancurkan pangkalan/instalasi serta alutsista-nya di darat daripada harus bertempur di udara.

Pembentukan

Dari dasar ini, Bravo 90 diarahkan menjalankan tugas intelijen dalam rangka mendukung operasi udara, menetralisir semua potensi kekuatan udara lawan serta melaksanakan operasi-operasi khusus sesuai kebijakan Panglima TNI. Saat dibentuk, Bravo diperkuat 34 prajurit;¬ 1 perwira, 3 bintara, 30 tamtama.

Entah kenapa, sejak dibentuk hingga akhir 1990-an, hampir tak pernah terdengar nama Bravo. Dalam masa “vakum” itu, anggotanya dilebur ke dalam Satuan Demonstrasi dan Latihan (Satdemolat) Depodiklat Paskhas. Baru pada 9 September 1999, dilaksanakan upacara pengukuhan Detasemen Bravo dengan penyerahan tongkat komando.

Pelatihan

Prajurit Bravo diambil dari prajurit para-komando terbaik. Setiap angkatan direkrut 5-10 orang. Untuk mengasah kemampuan antiteror, latihan dilakukan di pusat latihan serbuan pesawat GMF Sat-81 Gultor, latihan infiltrasi laut dalam rangkan penyerbuan pangkalan udara lepas pantai di pusat latihan Denjaka, latihan UDT (under water demolition) di sarana latihan Kopaska, serta latihan penjinakan bahan peledak di Pusdikzi Gegana, Polri.

  • Disarikan informasi dari Mabes TNI, Mabes TNI AD, Mabes Kostrad, Mabes Kopassus, Mabes TNI AL, Mabes Marinir, Mabes TNI AU, Mabes Polri, LSM bidang kemiliteran, Majalah Kemiliteran…

January 31, 2009 - Posted by | HARUSNYA ANDA KETAHUI, ILMU PENGETAHUAN UMUM | ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: