falahluqmanulhakiem

Mencoba berbagi, agar senantiasa berarti

MELIHAT “FENOMENA DUKUN CILIK DAN WAJAH BANGSA KITA..?”

PONARI. Namanya sangat sederhana. Sesederhana kehidupan yang dilakoni si penyandang nama itu. Ponari adalah bocah berusia sepuluh tahun yang tinggal di sebuah dusun di Jombang, Jawa Timur. Sebuah dusun yang minim tersentuh oleh modernisasi.

Ponari bukanlah bocah yang terkenal. Berprestasi. Apalagi pernah mengharumkan Merah Putih di dunia internasional. Dia hanya bocah biasa. Bocah yang masih duduk di kelas tiga sekolah dasar di desanya. Prestasinya pun di sekolah, biasa-biasa saja.

Tapi, Ponari adalah tokoh baru. Tokoh yang mampu menciptakan fenomena. Dia bak magnet. Mampu menarik belasan hingga puluhan ribu orang dari berbagai daerah untuk mendatangi dusunnya. Ponari juga mampu memunculkan harapan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah yang masih menjadi mayoritas penghuni negeri ini.

Hanya dengan memiliki sebuah batu, Ponari menjadi fenomena. Hanya dengan batu itu pula dia berhasil menumbuhkan optimisme. Namun, hanya dengan batu yang katanya diperoleh setelah dia lolos dari sambaran petir itu, Ponari juga menjungkirbalikkan rasio dan akal sehat bangsa ini.

Kita percaya ada sebagian manusia di muka bumi yang diberi kelebihan oleh Sang Pencipta. Namun, semua itu harus disikapi secara kritis. Jangan sampai karena begitu memercayai adanya ‘manusia super’ itu kita menjadi lemah moral. Apalagi terperosok dalam jurang kesyirikan.

Adalah benar jika banyaknya orang yang berusaha menemui Ponari karena lemah ekonomi. Mereka sangat membutuhkan adanya pelayanan kesehatan yang tokcer dengan tarif yang murah.

Bagi mereka Ponari adalah juru selamat di tengah perlombangan tarif yang diberlakukan rumah sakit atau dokter yang membuka pelayanan kesehatan secara privat.

Memang ada Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Namun, kita semua pasti sudah tahu realisasinya. Semua media mewartakan belum optimalnya pelaksanaan program layanan kesehatan untuk masyarakat kelas menengah ke bawah itu.

Pengobatan yang dilakukan Ponari secara kasat mata tidak masuk akal. Betapa tidak. Dia hanya mencelupkan batu ‘sakti’ ke air yang kemudian diminum oleh pasiennya. Kabar dari mulut ke mulut, banyak yang sembuh. Namun yang pasti, empat orang sudah meninggal secara mengenaskan karena sesak napas dan terinjak-injak saat berebut menemui Ponari.

Para ahli medis pun menilai cara pengobatan yang dilakukan Ponari, tidak logis. Kalau pun ada yang sembuh lebih karena aspek psikologis. Sugesti. Secara sosiologis juga memperlihatkan bahwa masyarakat kita masih suka pada hal-hal yang bersifat instan, meski di sisi lain juga memperlihatkan adanya kekurangan di dunia medis Indonesia.

Ponari memang dielu-elukan. Namun, marilah kita empati kepada dirinya. Empati terhadap kemerdekaannya yang telah terampas. Dia tak bisa lagi menjadi bocah yang bebas bermain, berimajinasi, beristirahat, dan mengembangkan kreativitas sebagaimana teman-temannya. Dia pun sudah dua minggu terpaksa bolos sekolah. Hak-hak Ponari sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah dilanggar.

Ponari telah tereksploitasi dan tersandera oleh ‘kelebihannya’. Tragisnya, orangtua, guru, kepolisian dan pemerintah daerah kurang merespons perlindungan terhadap hak anak yang dimiliki Ponari.

Fenomena Ponari adalah wajah kita. Wajah bangsa ini. Harapannya, fenomena Ponari dapat membuka hati pemerintah bahwa banyak masyarakatnya yang perlu pelayanan kesehatan dan pendidikan yang bermutu, berkeadilan dan biaya murah. Bukan pelayanan yang menjadi lahan korupsi.

February 15, 2009 - Posted by | Uncategorized | ,

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: